Sunday, May 31, 2009

Alkisah "Cinta" dan "Waktu"

Mengutip dari Blog-nya Noodie....

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak: " ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya" .

Mereka hidup berdampingan dengan baik, namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu.

Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan, sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta.

Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.

"Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta."

Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini."

Lalu Kakayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.

Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya.

"Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta.

Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta.

Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan.

"Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta.

"Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya.Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan.

"Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata Cinta.

"Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..." kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.

Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara,

"Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!" Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu.

"Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu." kata orang itu.

"Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya, bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku" tanya Cinta heran.

"Sebab," kata orang itu, "hanya Waktu lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu ..."

Dari salah satu tulisan Anis Matta yang pernah aku baca, tantangan cinta yang paling rumit adalah waktu. Dalam perjalanan waktu, kesejatian cinta itu teruji. Dan, ujiannya adalah menjawab pertanyaan sesederhana ini: " seberapa besar kadar kebajikan yang terkandung dalam cinta itu ?" . Di alam tamsil ini cinta adalah kereta : ia hanya berjalan di atas rel kebajikan. Begitu kebajikanmu habis, kereta cinta juga berhenti berjalan. Hanya ketika kamu menjadi orang baik, kamu dapat mencintai dengan kuat. Kalau ujian cinta adalah waktu, maka jawabannya adalah kepribadian.

" Sebuah cinta melambung tanpa batas, perasaan itu melambung di antara ke dua jiwa di antara masa yang berbeda, sehebat apapun keduanya berusaha untuk hidup dan hadir di kehidupan satu sama lain, misteri sang waktu akan selalu hadir sebagai isyarat yang terlalu sulit untuk dipecahkan, hanya waktu yang bisa menjawab segalanya, dan seiring waktu berjalan hanya ke-ikhlasan yang akan menjadikan jiwa itu kuat "

Sunday, May 10, 2009

Quote of The Day

" The Great Successful Persons have used their imagination,
They think ahead and create their mental picture,
and then go to work materializing that picture in all its details,
filling in here, adding a little here, altering this a bit and that a bit, but steadily building "

Sabtu malam yang menyenangkan, nungkrung-nungkrung di salah satu pojokan Plangi-Sky Dinning ditemani lima orang makhluk yang berbeda kepribadian dan bentuk, ada dua Batak, satu Timor, satu Jawa dan satu Arab....ahahaha..mungkin terdengar agak sedikit SARA, tapi itulah kami, memang suka sedikit "ceng-ceng an" dengan asal usul tapi tidak terpisahkan dengan perbedaan yang ada.

Layaknya ritual pertemuan kami, pasti diawali dengan saling memeluk, cium pipi kanan dan kiri kemudian sibuk berdebat "mau duduk dimana nie? n enaknya makan apa yah?????"

Setelah 5 menit, berjalan dari satu ujung ke ujung lain akhirnya kami memilih salah satu tempat di pojokan, yang tidak terlalu terkontaminasi dengan hingar bingarnya suara live musik dan orang yang lalu lalang.

Ditemani makanan, minuman dan tiga bungkus rokok Sampoerna Mild, obrolan dimulai dengan membicarakan pekerjaan kami masing-masing dan bla..bla...bla, yang spesial malahan ketika percakapan mengenai masa lalu dimulai, "Flash Back Time", dari mulai senyum hingga tertawa terbahak-bahak dibuatnya, mengenang dan berkumpul dengan kawan-kawan lama memang mengasyikan!, Sayang… harus berakhir dengan pelukan erat perpisahan, karena saat itu jam sudah menunjukkan pukul 01.00.

" Siklus kehidupan ini membuat seseorang tak banyak memiliki teman sejati. Selama hampir lima tahun sejak pertemuan kita, aku merasa bahwa kita sama-sama mampu membantu di dalam berbagai cara, kita punya rasa simpatik yang sama dalam suka dan duka, kita mampu meperkenalkan satu sama lain pada hal-hal yang berguna dan kita mempunyai rasa persahabatan itu, walaupun kadang ada kemarahan diantara kita tapi semuanya itu selalu diakhiri dengan senyum dan kata maaf. Percaya atau tidak kalian semua adalah salah satu kebahagiaan dalam hidup ini...many thanks for u guys, i love u all and hopefully our friendship will last forever and ever"

Monday, May 4, 2009

Hari ini sama seperti hari-hari kemarin,
Penyiksaan masih terus berlanjut,
Dan aku sedang bertahan untuk bisa keluar dari medan siksaan ini,

Pffuhhhh.............
Sesuatu yang berada amat sangat dekat tetapi rasanya jauh,
Mustahil untuk digenggam,
Mustahil untuk didekap,

Sampai kapan aku cukup kuat,
Menahan rasa haus yang setiap hari bertambah dosisnya,
Haus akan sesuatu yang dinamakan kasih sayang dan cinta,

Sepertinya aku butuh lebih banyak penawar daripada hanya seteguk keikhlasan dan dua teguk kepasrahan yang aku miliki saat ini.

NB :
" I hate this part right here, but believe me i am trying so hard to find my way back"

;;