Saturday, October 4, 2008

Manusia selalu menginginkan sesuatu yang baik terjadi di dalam hidupnya, begitu pula dengan aku. Sewaktu kecil aku selalu bermimpi, setelah besar nanti aku ingin menjadi orang sukses yang bahagia, punya keluarga yang harmonis dan saling menyayangi satu sama lain, punya rumah yang mungil dan hangat yang dikelilingi oleh taman yang luas, hijau serta dipenuhi bunga-bunga dan dilengkapi dengan kolam ikan berbentuk bulat, dengan jembatan kayu kecil yang menghubungkan satu sisi kolam dengan sisi lainnya dan dilengkapi dengan air mancur kecil yang keluar dari periuk air yang dibawa oleh hiasan batu berbentuk putri duyung, punya pekerjaan dan karir yang sukses walaupun aku tidak tahu professi dan pekerjaan apa yang ingin aku geluti, punya mobil yang mungil dan dengan “bentuk body bulat” yang setia menemaniku jalan kemanapun aku mau (pada masa itu, aku tergila-gila dengan mobil keluaran Toyota merk Starlet), punya rejeki lebih supaya bisa jalan-jalan keliling Indonesia bahkan sampai keliling dunia dan punya uang banyak sehingga aku bisa membantu orang-orang di sekitar aku.

Angan-angan dan cita-cita yang sangat indah bukan di masa itu? Berangkat dari keinginan-keinginan itu pulalah, kupacu diri dan semangatku untuk selalu belajar dan berprestasi di sekolah. Dari mulai SD sampai kuliah, kuisi hari-hariku dengan buku-buku pelajaran, tugas-tugas sekolah serta les beberapa mata pelajaran, aktif di beberapa organisasi sekolah dan acara-acara sekolah disamping kehidupan bermain dan kumpul-kumpul dirumah teman ataupun sekedar jalan ke mall yang tidak pernah kulewatkan juga. Hasilnya prestasi yang cukup baik selama di bangku SD sampai SMA yang bisa membuat kedua orang tuaku tersenyum bangga dan membuat aku cukup merasa puas dengan jerih payahku. Beranjak lebih lagi, satu bangku kuliah di sebuah perguruan tinggi negri bisa aku peroleh, dan selama masa kuliah itu pula, aku mulai mencoba untuk masuk ke dunia sosial, sempat beberapa kali mengunjungi rumah singgah dan menjadi pekerja sosial untuk orang-orang yang memiliki keterbatasan dalam indra penglihatan, selain itu naluri untuk mencari tambahan uang sakupun mengantar aku menjadi Guru Privat anak SD. Kujalani semua kehidupan kuliah dengan semangat berprestasi yang tinggi pula, sampai akhirnya aku lulus dengan IPK sedikit di atas rata-rata. Haha….Enam Belas tahun dalam proses yang sangat melelahkan tapi berakhir dengan indah dan penuh kebanggaan bukan?

Tapi kehidupan tidak cuma berakhir setelah aku mengantongi gelar sarjana, justru kehidupan yang sesungguhnya dimulai ketika Bapak Rektor memindahkan tali toga aku dari kiri ke kanan. Berawal pada hari itu impian kehidupan masa kecilku ditentukan, apakah mimpi akan menjadi kenyataan ataukah mimpi indah masa kecil hanya akan menjadi sebatas mimpi saja.

Sampai saat ini, sampai detik ini ketika aku mengetik kata demi kata, memutar balik memori ingatan aku ke masa dimana impian akan masa depan aku bentuk, aku merasa aku masih berjuang untuk mewujudkan mimpi itu, lima tahun delapan bulan telah berjalan, tiga perusahaan, tiga profesi, keluarga kecil yang baru kujalani dan kehidupan keluarga yang dibumbui dengan kejadian-kejadian yang membuat aku merasa sedang menjalani “SHOCK THERAPHY” ataupun dipacu jantung dengan menggunakan “ALAT KEJUT LISTRIK”.

Kadang aku merasa aku telah berlari kencang tetapi semakin cepat aku berlari rasanya semakin cepat pula mimpi itu berlari menjauh, ketika malam datang kadang aku merasa lelah dan kehilangan semangat yang pernah kumiliki untuk berlari mengejar mimpi di depan, kadang aku berpikir untuk memutar arah dan kembali memikirkan kehidupan seperti apa yang ingin kumiliki sekarang dan di masa depan. Tetapi ketakutan untuk terus mengejar dan mendapatkan kegagalan adalah LEMAH sama dengan kelelahan adalah LEMAH dan aku bukan orang LEMAH. Aku adalah aku yang telah berhasil melalui enam belas tahun proses yang berakhir dengan piala kebanggaan. Fase pertama telah berhasil membuktikan bahwa aku tidak LEMAH, fase kedua ini adalah proses pembuktian bahwa aku tidak LEMAH tetapi fase kedua adalah fase lanjutan dari fase pertama dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi sehingga Tuhan akan memberikan kekuatan yang lebih pula kepada aku.

“Tuhan tidak akan pernah membiarkan anakNya untuk tenggelam dalam masalah yang lebih besar dari kemampuan yang dimiliki anakNya” dan “Peluang itu selalu ada hasilnya untuk orang yang berani mengambilnya, tetapi tidak akan ada hasilnya untuk orang yang tidak berani mengambilnya, karena orang yang berani memiliki 50% peluang untuk berhasil dan 50% peluang untuk gagal, tetapi orang yang tidak berani hanya memiliki 100% peluang untuk gagal” .

Mimpi itu masih ada di depan, masa depan dan kehidupan yang aku mimpikan di masa kecil adalah sebuah kenyataan yang menanti aku di depan sana, sekarang yang perlu aku lakukan hanyalah berusaha terus, berlari lebih kencang dan selalu berpegang serta berdoa kepada pemilik alam semesta untuk mendekap mimpi kehidupan yang aku rangkai jauh – jauh hari sebelum detik ini.

0 Comments:

Post a Comment